Alkisah setelah turun dari Waerebo, saya dan teman-teman menumpang mandi dan makan di homestay Denge milik Bapak Blasius, salah satu keturunan dan pengurus Waerebo. Setelah mandi, saya memakai handphone saya untuk mencari arah kiblat. Beres shalat, kami pun pamit dan dadah-dadah dengan Pak Blasius.
Perjanan kembali ke Kota Ruteng dari Denge berjalan lancar selama 4 jam. Sampai di Ruteng, kami mampir ke Katedral Ruteng untuk foto-foto dan ketika berniat mengeluarkan handphone dari tas, ternyata handphone saya gak ada! Jengjet!
Tanpa perlu berfikir terlalu panjang, saya langsung sadar kalau handphone saya ketinggalan di homestay Denge, letaknya pun saya masih inget, di jendela dekat tempat saya shalat . Hwaaaaaaaa!!
![]() |
| Supaya kebayang, inilah peta Ruteng - Denge - Waerebo |
Langsung lemes secara handphone saya baru dibeli dua minggu lalu. Dan ini handphone high-end pertama saya seumur hidup, hasil menguras tabungan. Hiks.
Langit sudah mulai gelap dan kami sudah harus melanjutkan perjalanan ke Riung. Saya sempet kepikiran untuk nginep aja di Ruteng, besok paginya ke Denge naik oto kayu (truk yang dijadikan angkutan umum), lalu nyusul ke Riung. Tapi kata supir kami Pak Pius dan teman-teman lain, selama belum ada kabar dari Pak Blasius, jangan misah dari rombongan. Dan lalu saya pun ikut ke Riung dengan mood berantakan. Haaaahhh.
Di malam selanjutnya, Pak Pius tiba-tiba ditelpon teman sesama supir yang baru dikenal di Denge, Pak Reno, yang ngasih tahu kalau handphone sudah sudah dia bawa dari Denge ke Ruteng di hari yang sama, lalu dititipkan ke supir lain yang searah dengan kita, Pak Ito, yang belum dikenal oleh Pak Pius. Waduh, antara seneng karena akhirnya dapet kabar keberadaan handphone saya, tapi waswas karena dipegang oleh orang yang bahkan Pak Pius pun gak kenal.
Siang hari tadi, Pak Pius sempat kenalan sama supir lain di Desa Bena, Pak Yopi namanya. Setelah dapat kabar dari Pak Reno, Pak Pius berinisiatif menelepon Pak Yopi untuk menanyakan nomor Pak Ito, DAN TERNYATA ADA! Segera Pak Pius menelepon Pak Ito dan akhirnya janjian untuk bertemu di tempat menginap di Kelimutu 2 hari lagi (karena Pak Ito masih harus ke Maumere di ujung timur Flores dulu).
Saya kaget, excited, kagum akan keajaiban ini. Walau handphone saya belum sampai, akhirnya saya bisa lanjut liburan dengan sedikit lebih lega.
Dua hari kemudian, saya dan teman-teman baru sampai di penginapan di Moni (dekat Kelimutu), sekitar jam 11 malam, Pak Pius mengetuk pintu kamar penginapan saya dengan membawa handphone saya, titipan dari Pak Ito.
"Ibu, ini tadi Bapa Ito menolak diberi uang, tapi saya bilang Ibu itu sudah ikhlas memberi sebagai tanda terima kasih, terima saja.", cerita Pak Pius yang memang saya titipi selembar uang seratus ribu rupiah untuk Pak Ito.
Malam itu, kembali ke genggaman saya handphone hitam yang tanpa kurang sesuatu atau lecet sedikitpun, bahkan di-charge penuh. Handphone saya yang bahkan sudah melalui perjalanan yang lebih jauh dari saya. Handpone saya yang dikembalikan tanpa meminta pamrih apapun. Saya lega, terharu dan kagum akan keajaiban yang baru aja terjadi.
Terima kasih Pak Ito, Pak Reno, Pak Blasius, Pak Yopi, Pak Pius. Anda semua mengajarkan saya untuk tidak melihat orang hanya dari penampilan saja. Mengingatkan anak kota yang penuh keskeptisan ini bahwa kebaikan dan ketulusan hati itu nyata dan masih ada.
Faith in humanity restored in Flores :)

Such a drama, but glad that it ended up nicely! Btw, I like the map, so cool!
ReplyDeleteThank you, Mbak Firsta! Bahagia banget handphone bisa balik.
DeleteBtw, aku pindah blog-ku ke http://blog.wahyunifebriani.com, monggo di-visit jika berkenan :D
Saya pernah membaca cerita yang serupa tapi kehilangan hapenya di angkot, malah lebih lebih parah ya? hahaha. Ah, orang Indonesia timur itu baik-baik rupanya.
ReplyDeletewaduh lebih serem ya kalau di angkot! Ini juga sangat ga nyangka kalau ternyata bisa balik, tadinya udah pesimis banget.. Huhu.
Deleteselamat datang di indonesia
ReplyDeleteyang di isi dengan keramahan rakyatnya
seru bgt yun!hahaha.. orang daerah itu emank lebih baik dari orang kota. Gw pernah ngelamin hal serupa dan senang bgt liatnya, mereka masih ingin mencari duit halal daripada menghalalkan segala cara. salut! :)
ReplyDeleteAku malah baru tahu kamu sempat ketinggalan handphone gini Yun, untunglah sudah kembali yahh.. :)
ReplyDeleteIyaa! dan hebatnya kembali loh, orang flores baik-baik sekali :'D
Delete