Saturday, September 19, 2015

25 dan Kegelisahannya

Berbicara soal quarter life crisis memang tidak akan ada habisnya. Saat menulis ini saya berumur 25 tahun, umur krusial dimana seseorang dianggap sudah berada di titik baru kedewasaan. Di titik ini saya bukan lagi lulusan universitas yang meraba-raba dunia "orang gede" karena di umur ini minimal sudah 1-3 tahun mencicipi dunia kerja.

Dulu saya selalu membayangkan di umur 25 tahun akan terjadi hal besar dan fenomenal yang akan terjadi dalam hidup saya, turning point, pintu gerbang menuju kedewasaan hakiki yang jauh dari keduniawian pola pikir anak muda, naik level menjadi versi yang jauh lebih baik dari sebelumnya, endeswey endeswey endeswey....

Nyatanya tepat setelah ulang tahun ke 25, saya resign dari kantor lama saya tanpa tujuan pekerjaan selanjutnya, saya nyoba daftar beasiswa S2 tapi tidak diterima. Berbekal prinsip "rejection is also direction", saya coba semua tawaran dan kesempatan apapun yang datang dan ada. Kalau gak diterima? Ya berarti memang bukan jalanNya aja. Terkesan tawakal yah, padahal sih semua karena saya...... bingung dan hilang arah! Haha sumpeh deh.

Berada di umur 25 dan memasuki Waktu Indonesia bagian quarter life crisis berarti juga memasuki lingkungan super dinamis dan bergerak sangat cepat. Ujug-ujug ada teman sudah yang dilamar pasangannya dan akan segera menikah. Ujug-ujug banyak yang lanjut sekolah jenjang S2. Ujug-ujug banyak undangan pernikahan. Ujug-ujug pada resign berjamaah. Ujug-ujung teman yang menikah sudah punya anak.

Saya selalu beranggapan, hidup ini bukan lomba lari, jadi tidak ada garis start finish dan setiap orang memiliki pilihan untuk menentukan arah berlari kemanapun dan dengan kecepatan berapapun. Apapun pilihannya tidak ada yang salah. Tapi bayangkan berada di suatu lapangan besar dengan orang-orang berlari semrawut ke berbagai arah, kebanyakan cepat, bukankah hati menjadi sedikit gelisah dan terbawa? (Atau jangan-jangan cuma perasaan saya aja?)

Terutama kalau undangan pernikahan mulai berdatangan nyaris setiap akhir pekan. Sahabat terdekat mulai memberi bahan seragam untuk hari besar mereka. Orang tua mulai hobi follow up pertanyaan "kapan diseriuskan? jangan lama-lama". Sementara progres pertambahan tabungan tidak terlalu signifikan, apalagi jiwa yang seakan berhenti di umur remaja.

Beruntung, saya sempat ngobrol dengan beberapa kolega kerja yang secara umur dan pengalaman jauh di atas. Beliau-beliau yang sudah makan asam garam kehidupan ini dengan sangat bijaksananya menyarankan untuk sabar, tenang, terus berdoa, jangan takut mencoba hal yang memang kita inginkan, serta untuk menambah networking karena hal-hal ini lah yang akan berguna di 5 sampai 10 tahun lagi. Terima kasih untuk kakak-kakak ini yang entah mereka sadar maupun tidak, menginspirasi dan menenangkan hati ini :)

Jadi saat ini menjadi masa-masa "hajar bleh!" untuk saya. Masa-masa mencari ilmu sebanyak-banyaknya, berkenalan dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, membuka diri dari lingkungan yang terlanjur nyaman dan mengorbankan hal-hal yang cuma "senang-senang" saja ke hal yang "senang tapi ada value-nya juga". Belajar gak pelit terhadap diri sendiri, apalagi untuk yang bersifat investasi ilmu ke diri sendiri. Mulai keluar dari comfort zone pokoknya!


Walau bingung dan khawatir terhadap masa depan, tapi harus berusaha!